Tampilkan postingan dengan label Puisi Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juli 2017

SAJAK CINTA GUS MUS

Image result for puisi gus mus

SAJAK CINTA

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet, si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah yusuf dan zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu dendam adam hawa
aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu
aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu
aku adalah sinar silau panas
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu
aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u mu

Gus Mus "IBU"


Image result for puisi gus mus
IBU

Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, langit dan laut
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu
(Tuhan
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanatMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).

SUWUK KULHU SUNGSANG Puisi Gus Mus

Related image

SUWUK KULHU SUNGSANG

Sato sampai sato mati
Jalma sampai jalma mati
Maling sampai maling mati
Rampok sampai rampok mati
Tamak sampai tamak mati
Lalim sampai lalim mati
Tiran sampai tiran mati
Buta sampai buta mati
Hantu sampai hantu mati
Setan sampai setan mati
Niatbusuk sampai niatbusuk mati
Atas pertolongan Pasti.

1411

Gus Mus "PILIHAN"

PILIHAN

Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?

Aku Merindukanmu, O, Muhammadku

Aku Merindukanmu, O, Muhammadku


Aku merindukanmu, o, Muhammadku 
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah 
Menatap mataku yang tak berdaya 
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan 
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan 
Mencari-cari tangan 
Lembut-wibawamu 


Dari dada-dada tipis papan 
Terus kudengar suara serutan 
Derita mengiris berkepanjangan 
Dan kepongahan tingkah-meningkah 
Telingaku pun kutelengkan 
Berharap sesekali mendengar 
Merdu-menghibur suaramu 


Aku merindukanmu, o. Muhammadku 


Ribuan tangan gurita keserakahan 
Menjulur-julur kesana kemari 
Mencari mangsa memakan korban 
Melilit bumi meretas harapan 
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku 
Mencoba memanggil-manggilmu 


O, Muhammadku, O, Muhammadku! 

Dimana-mana sesama saudara 
Saling cakar berebut benar 
Sambil terus berbuat kesalahan 
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan 
Masing-masing mereka yang berkepentingan 
Aku pun meninggalkan mereka 
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku 



Aku merindukanmu, O, Muhammadku 

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab 
Menitis ke sekian banyak umatmu 


O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu - 

bagaimana melawan gelombang kebodohan 
Dan kecongkaan yang telah tergayakan 
Bagaimana memerangi 
Umat sendiri? O, Muhammadku 


Aku merindukanmu, o, Muhammadku 


Aku sungguh merindukanmu


Untuk ali jabbar dan usman awam